Pulang sekolah, Ia harus menempuh hutan dengan medan yang terjal dan licin untuk mencari rebung. Mencari keong emas di danau sampe harus menyelam untuk dijual. Makan bekal di perjalanan yang berupa nasi polos. Pulang dan harus segera mengolah rebung tadi. Menjual 6 bungkus rebung @ 1000, yang satu hari pun belum tentu laku semua. Lalu diberikan beras, dan minyak tanah untuk belajar malam. Kegiatan yang terus diulang dari hari ke hari.
"Nanang begini cuma biar ibu nggak nangis. Biar adik - adik bisa belajar.."
"Nanang begini cuma biar ibu nggak nangis. Biar adik - adik bisa belajar.."
Air mata saya menetes. Anak kecil aja bisa berfikir komprehensif tentang kehidupan. Dan dia mampu menghadapi semua tantangan hidup dengan cara pandang yang baik. Target nya pun simpel..
Keluarga..
Jadi teguran keras buat saya. Semua yang saya kejar, semua yang saya impikan, semua yang saya doakan itu sebenernya pusat nggak ada artinya, kalau saya nggak berbuat apa – apa untuk keluarga.
Saya kembali intropeksi, selama hampir 24 tahun di dunia ini, apa yang saya sudah kasih ke orang tua? Sudahkah saya jadi kaka yang baik dan contoh yang baik buat adik2?
Selama ini saya hanya larut di kesibukan mengejar apa yang saya harapkan. Tanpa melihat pribadi – pribadi yang begitu tulus mendoakan, dan selalu siap memberikan kasih secara nyata: mama dan papa. Kadang saya malah menjadikan mereka nomor sekian diatas segala kegiatan saya di rumah sakit atau bermain, nggak ada rasa hormat. Yang mereka inginkan pun simpel, saya sukses. Dan itu bukan buat mereka juga, mereka nggak pernah nuntut nanti mau ini atau itu dari apa yang nanti saya capai. Mereka Cuma mau anak nya sukses.
Kalau keluarga Batak ada satu filsafat yang menurut saya bagus, tapi saya lupa gimana kalimat pastinya, tapi intinya begini:
Anak ku adalah kebanggaan. Harta nggak berguna, kalau anak – anak nggak sekolah.
Intelektual jadi tolok ukur harga diri keluarga Batak. Karenanya mindset keluarga saya pun begitu. Dari kecil diajar sungguh – sungguh dalam pendidikan. Tapi setelah saya jauh belajar sampai sekarang ini, saya jadi lupa akan mereka. Bukan bermaksut sok pinter, tapi terkadang saya nggak bisa menghargai kasih mereka.
Keluarga bisa jadi motivasi dan kekuatan untuk kita melewati sulitnya hari – hari kita seperti si Nanang tadi. Sesulit apapun hidupmu, kau pasti akan melaluinya. Tuhan selalu membantu mu, dan jauh disana, ada doa – doa yang selalu dipanjatkan dari mereka..
keluarga kita..
Mereka adalah kasih Tuhan yang nyata.
![]() |
| Wisuda Sarjana Kedokteran - Oktober 2010 |
God bless,
Cindy
