Tweet teman - teman mengingatkan tentang Hari Anak Nasional yang diperingati hari ini. Teringat peristiwa tadi siang, potret kehidupan anak – anak, yang seharusnya dirayakan keberadaannya hari ini.
Slogan HAN 2011 yang begitu bersemangat dan optimis :)
Siang tadi, sehabis kuliah IKM, gue memutuskan pergi ke Paragon (mall di Semarang), pake taxi. Taxi yang gue tumpangi, berhenti karna lampu merah di depan Paragon. Tiba – tiba, ada seorang anak laki - laki, umur sekitar 7 tahun membawa koran, seperti hendak menjualnya.
Nggak tau yaa, hati gue selalu sedih melihat anak yang harus jualan, harus ngamen, harus ada di jalanan, di jam yang harusnya mereka ada di sebuah tempat bernama sekolah atau tempat bermain.. Kadang – kadang, gue malah sengaja beli koran yang mereka jual (padahal gue ga suka baca koran), saking nggak tega nya melihat mereka yang harus berjuang sampe segitu berat.
Balik ke anak laki – laki tadi, dia mengetuk kaca taxi. Sekilas penampilannya cukup nggak kerawat, rambutnya merah, kulit nya coklat, dan kurus banget.. Gw bergegas mencari uang untuk beli koran atau sekedar kasih uang ke dia.. tapi ini yang buat gw miris.....
Anak laki – laki itu nolak uang pemberian gue.. dia geleng – geleng.. gw berpikir dalam hati, sebenernya mau apa nih anak.. jangan2 dia mau uang yang lebih banyak.. saat gw bergegas akan mengambil duit di tas lagi, akhirnya dia menjawab dengan nada lirih...
“ada nasi mba..?”
Sontak gue langsung kaget, dan jawab “ga ada sayang.. kamu lapar?”
Belum sempat dijawab, dia pergi, dan lampu sudah hijau...
Air mata gw nggak bisa gw tahan.. pak supir sampai tanya, “kenapa mba? Tadi diapain anak itu?”... Gw diem aja... pikiran ini hanya dipenuhi kalimat terakhir anak tadi..
“ada nasi, mba..?”
Mereka seharusnya tidak ada di sana, di jalanan.
Mereka seharusnya tidak berlari – lari dari satu angkot ke angkot lain utnuk bernyi, nyemir sepatu, atau jualan.
Mereka seharusnya tidak kelaparan.
Kadang – kadang, gue sampai doa begini:
“Tuhan, kasih hambamu duit yang banyak... Pengen jadi suplier makanan untuk anak – anak jalanan”
Dari semua golongan umur, gw paling terbeban sama anak – anak. Karna gue pikir, hidup mereka itu masih panjang. Apa yang mereka dapatkan atau tidak dapatkan sekarang, akan menentukan jadi manusia seperti apa mereka nantinya. Anak yang baik bermula dari gizi yang baik. Gue nggak habis pikir, bagaimana pola pikir orang tua mereka yang mbiarkan mereka terjun ke jalanan, sampai kelaparan. Atau memang situasi dan kondisi bangsa ini yang memaksa mereka menjadi seperti itu...
Jika dibandingkan sama iklan susu formula yang menjamur di TV sekarang ini, gue jadi tambah sedih. Ada golongan orang tua yang bingung harus pilih susu yang mana, ada golongan orang tua yang bahkan nggak bisa ngasih nasi sama anak – anak nya. Daya konsumsi nya jauh banget beda nya.
Jadi ingat kuliah IKM tadi siang tentang pembiayaan kesehatan. Banyak pilihan karir dari kuliah tersebut; struktural, fungsional, dokter keluarga, dan masih banyak hal yang menjanjikan... Satu hal yang jadi beban gue dari kuliah itu, ternyata sulit untuk mewujudkan taraf kesehatan yang merata. Karna 1 hal.. kemiskinan...
Apa yang bisa dilakukan oleh dokter?
Apa peran dokter? Apa yang bisa gue perbuat ketika gue jadi dokter nanti. Akankah saat angkatan gue di sumpah menjadi dokter, dan kami terjun ke dunia kesehatan, anak – anak tersebut tidak kelaparan lagi.....?
Atau kami hanya menerima jabatan profesi, tanpa bisa berbuat apa – apa untuk mereka...
Semoga potret anak – anak jalanan ini bisa memperbaiki motivasi kita. Punya duit itu gampang, dengan kita jadi dokter. Tapi, apakah itu panggilan kita sesungguhnya..?
Lihat sekitar kita.. liat ladang – ladang yang seharusnya kita layani..
Mereka seharusnya tidak di sana.....



